Madu sebagai Anti-bakteri, Anti-inflamasi, dan Anti-oksidan

No Comments 1235 Views0


Waspadai “Madu Campuran” di Pasaran

Madu terdiri dari komponen gula dan air. Beberapa bagian gula pada madu mengandung banyak vitamin, terutama vitamin B kompleks dan vitamin C yang bekerja sama dengan mineral. Beberapa komponen vitamin pada madu yaitu asam askorbat, asam panthothenic, niacin, dan riboflavin, serta beberapa mineral seperti kalsium, tembaga, besi, magnesium, fosfor, potassium, dan seng. Madu bermanfaat untuk proses penyembuhan, sumber nutrisi, dan bahan terapi sejak zaman dahulu. Kandungan anti-bakteri pada madu mampu melawan bakteri yang tahan terhadap beberapa jenis obat. Madu juga diketahui memiliki anti-inflamasi dan anti-oksidan yang mampu mencegah peradangan parah seperti pada diabetes dan penyakit jantung.

Madu sebagai anti-bakteri

Sejak zaman dahulu, madu telah dipercaya mengandung anti-bakteri yang baik untuk proses penyembuhan luka. Produksi enzim hidrogen peroksida berperan sangat penting sebagai anti-bakteri pada madu. Mekanisme ini berhubungan dengan rendahnya kadar pH dan tingginya tingkat kekentalan madu (daya osmosis yang tinggi) yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Madu memiliki pH yang masam, yaitu sekitar 3,2 hingga 4,5 dan pada pH tersebut bakteri akan terhambat pertumbuhannya. Kemampuan anti-bakteri pada madu juga didapatkan karena adanya daya osmosis pada tingkat kekentalan gula dan rendahnya kelembaban, sehingga mampu menciptakan suasana masam dan bersifat anti-septik. Madu dapat membantu penyembuhan cangkok kulit dan infeksi yang disebabkan. Pengurangan cairan pada luka dapat dibantu dengan penggunaan madu sebagai anti-inflamasi.

Madu sebagai anti-inflamasi

Penggunaan madu pada luka mampu mengurangi tingkat peradangan. Rasa sakit merupakan dampak dari peradangan, dan madu mampu meringankan rasa sakit apabila digunakan pada bagian yang terluka. Peradangan merupakan tanda dari infeksi atau luka, namun apabila terjadi peradangan yang lama dan berlebihan, dapat menghalangi proses penyembuhan dan mengakibatkan kerusakan sel. Peradangan terjadi karena adanya radikal bebas dalam tubuh. Anti-oksidan berperan dalam menekan radikal bebas untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya.

Madu sebagai anti-oksidan

Penggunaan anti-oksidan pada luka bakar mampu mengurangi tingkat peradangan. Madu berpotensi menekan aktivitas anti-oksidan dengan menghambat pembentukan radikal bebas. Radikal bebas menyebabkan transformasi molekuler dan mutasi gen pada semua makhluk hidup. Radikal bebas berperan dalam proses disfungsi sel, metabolisme bakteri penyebab penyakit, dan penyakit jantung. Konsumsi makanan dan bahan yang mengandung banyak anti-oksidan mampu melindungi tubuh melawan perubahan sifat bakteri dan mencegah penyakit akibat serangan bakteri. Madu mengandung berbagai jenis flavonoid yang bekerja sama untuk mengubah efek dari sinergisme anti-oksidan. Madu terdiri dari beberapa phytochemical (seperti halnya zat kimia lain seperti asam organik, vitamin, dan enzim) sebagai sumber diet anti-oksidan. Jumlah dan jenis dari anti-oksidan ini tergantung dari besarnya sumber nektar untuk madu. Secara umum, madu yang gelap menunjukkan tingginya kadar anti-oksidan daripada madu yang berwarna lebih terang. Peneliti menyarankan menggunakan madu sebagai pemanis alami untuk mengubah sistem pertahanan antioksidan pada tubuh.

Madu yang sejak dulu telah dipercaya mampu mengobati berbagai jenis penyakit dan menjaga kesehatan. Kandungan anti-bakteri, anti-inflamasi, dan anti-oksidan mampu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah timbulnya berbagai macam penyakit. Konsumsi madu secara rutin akan mampu meningkatkan system imunitas atau daya tahan sehingga tubuh tidak akan mudah terserang penyakit. Selamat mencoba khasiat madu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *