PRO KONTRA EFEK MADU MURNI BAGI KESEHATAN

No Comments 737 Views0


Madu Vitabumin untuk Flek Paru Anak

Bagi kebanyakan orang, madu menjadi andalan sebagai suplemen kesehatan bahkan obat di kala sakit. Kepercayaan masyarakat terhadap madu terutama karena madu telah tertulis dalam kita suci Alqur’an sebagai obat dari segala penyait sejak 1.400 abad silam. Penelitian ilmiah dari dalam dan luar negeri semakin memperkuat kepercayaan masyarakat untuk mengandalkan madu sebagai herbal rumahan yang alami dan berkhasiat. Masyarakat berbondong-bondong membeli madu murni dari penjual madu, karena menurut mereka madu murni lebih banyak mengandung gizi daripada madu yang sudah disaring atau dipanaskan.

Namun, ada beberapa pihak yang mempertanyakan efek dari konsumsi madu murni bagi kesehatan. Pernyataan dari lembaga kesehatan resmi dalam negeri maupun dunia turut memperkuat keraguan masyarakat terhadap efek yang ditimbulkan dari konsumsi madu murni. Chris Wagner dari Dallas Children’s Medical Center Amerika mengemukakan pengalamannya merawat pasien yang keracunan madu murni. Madu murni menyebabkan alergi yang berpotensi muncul sesak napas, tekanan darah rendah, pusing, pingsan, hingga gagal jantung. National Institutes of Health merekomendasikan agar mengonsumsi madu yang telah dipasteurisasi untuk mencegah efek buruk. Berdasarkan peringatan dari Food Standards Agency (FSA), madu mengandung spora botulisme yang bisa menyebabkan penyakit serius bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan. Anak-anak di bawah usia satu tahun tidak memiliki kemampuan untuk melawannya.

Pernyataan di atas tentu ada benarnya, namun juga tidak sepenuhnya benar. Bagi pihak-pihak yang tidak memiliki alergi terhadap produk lebah (madu, propolis, royal jelly) tentunya tidak masalah jika mengkonsumsi madu murni, selama tidak ada respon negatif dari tubuh setelah mengkonsumsi madu tersebut.

Jika berbicara konsumsi madu murni untuk bayi, memang ada benarnya bayi di bawah satu tahun tidak cocok diberikan madu. Kasus botulisme pada bayi yang disebabkan karena mengkonsumsi madu jarang dijumpai di Indonesia. Botulisme yang banyak ditemukan disebabkan makanan kaleng, sayuran mentah, dan makanan lainnya yang kurang bersih dan terkontaminasi. Jadi, penyebab keracunan botulisme pada bayi bukan dari madu, melainkan spora bakteri Clostridium botulinum yang bisa menempel pada semua media seperti makanan, tanah, dan lingkungan tidak higienis. Spora bakteri ini menempel pada saat pengemasan, produksi, juga faktor lingkungan. Jadi, lebih baik memberikan madu kepada anak yang berusia di atas satu tahun saja.

Saran untuk mengonsumsi madu yang telah dipasteurisasi juga perlu diteliti kembali. Madu murni yang tidak dipasteurisasi atau dipanaskan justru mengandung bee pollen atau tepung sari yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Sebaliknya, madu yang telah dipasteurisasi justru akan kehilangan kandungan bee pollen dan enzim lebah bermanfaat di dalamya. Selain pasteurisasi, biasanya beberapa penjual madu juga melakukan penyaringan madu yang tujuannya sama, yakni untuk menghilangkan bee pollen dan enzim-enzim lebah. Penjual madu melakukan kedua hal tersebut untuk menjaga agar madu tetap awet dalam tempat penyimpanannya. Bee pollen dan enzim lebah dituding menjadi penyebab kemasan madu menggembung dan pecah. Maka penjual madu kemudian ramai-ramai melakukan pemanasan dan penyaringan terhadap madu mereka.

Sebagai konsumen, Anda berhak memilih. Membeli madu murni dari penjual madu terpercaya, atau membeli madu yang telah dipasteurisasi. Dengan penjelasan yang kami ungkapkan di atas, sebaiknya Anda teliti terhadap madu yang Anda beli. Pastikan penjual madu terpercayalah yang Anda beli madunya. Hindari pula penjual madu palsu yang selama ini banyak meresahkan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *