Cara didik anak ala nabi

No Comments 475 Views0


um

Cara mendidik anak ala nabi seringkali menjadi bahasan menarik dari semua orang tua. Jika Anda dan keluarga selama ini mengikuti saran dan anjuran dari banyak tokoh dalam merawat anak, ada baiknya Anda coba mencari inspirasi baru dan kekinian mengenai cara mendidik anak dengan mengunakan cara nabi, cara yang lebih islami. Seperti yang telah disampaikan rasulullah sebelumnya bahwa memang semua bayi dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan fitrah dan suci. Orang tuanyalah yang menjadikan ia muslim, nasrani atau majusi

Hal ini membuktikan bahwa nabi menggiring para orang tua untuk mendidik anak dengan cara yang memang dianjurkan dalam Islam. Mengapa demikian?, menjadi wajar kiranya jika orang tuanya kelak akan menjadikan anak ini berkualitas secara agama, secara duniawi atau malah kedua-duanya. Pada orang tualah penanaman budi pekerti, keimanan seta kemampuan sosial dan sejenisnya akan dikembangkan atau justru dilenyapkan. Maka dari itu, ada beberapa cara mudah mendidik anak sejak ia baru lahir hingga masa kanak-kanaknya.

Untuk bisa mendidik anak dengan benar di usia awalnya, yakni di usia 0-6 tahun, para orang tua dituntut untuk selalu membiarkan anak bebas. Bebas dalam mengekspresikan diri, bebas untuk melakukan yang mereka suka dengan fasilitas yang disediakan, serta larangan para orang tua untuk berkata kasar atau membentak anak . Usia ini adalah usia emas anak, dimana Anda dituntut untuk memberikan semua yang terbaik bagi mereka. Mulai dari makanan, nutrisi, fasilitas penunjang serta materi seperti baju, mainan, dan perlengkapan, bahkan didikan yang penuh kelembutan dan kasih sayang.

Upaya selanjutnya mendidik anak adalah ketika berusia 7-14 tahun. Di usia ini Anda harus menjadikan ia patuh pada perintah. Perintah untuk mulai menjalankan salat, lebih rajin mengaji, serta beragam tuntunan agama yang perlu ia tahu. Ibaratnya, penggemblengan persoalan agama ada di rentan usia tersebut. Usia selanjutnya yaitu antara 15-21. Di usia ini para anak sudah beranjak remaja, dimana mereka terus mencari jati diri. Bertindaklah sebagai teman yang selalu bisa mereka andalkan, jangan seperti tentara yang masih terus mengatur. Ingat, mereka sudah merasa cukup dewasa. Yang perlu Anda lakukan, tetap mengarahkan dengan tanpa otoriter.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *